Halaman

    Social Items

Visit Namina Blog
Remember when you were a careless eight-year-old kid riding a bike with your friends, racing each other around the neighborhood?

Remember that feeling of absolute freedom as you felt the wind in your hair and the smile it put on your face?

I never thought I would feel that way as a grown-up until my friends presented me with a red brand-new bike. At first, I was a bit skeptical about the total idea of commuting by bike. One morning a couple of days later, I changed completely my mind.

commuting by bike


I was stuck in a traffic jam and saw in my rear mirror a man in a suit riding a classy bike with his laptop case in one hand and a handlebar in the other. I figured out it would take him about 15 minutes to get to the office while I was still sitting in my car and waiting for the cars in line ahead to move, even if just for an inch. I was always very afraid of being late for my business meetings.

That is when I decided to get on the bike. I haven’t regretted my decision so far. One of the best things about cycling is that the bike is perfect for exercising. Just cycling to and from work or to the shops every day is enough to keep you healthy and happy.

Besides, it's incredibly liberating to be able to get anywhere without losing time in traffic jams. Also, don’t forget about the environmental benefits. Cycling helps to reduce air pollution while reducing also traffic congestion and the need for gas.

At some point, I realized that I started to use the bike more often, not only to get to work but also to catch up with friends and to head out for coffee on weekends. I loved this style of traveling because it lets you really appreciate what you are seeing around you. You can stop anywhere you want and yet you can cover a lot of distance.

That daily distance I rode to work was no longer enough for me. I started riding to the nearest decent mountain bike trails so I could spend the day going up and down hills. I did it because it was fun.

Because I enjoyed it.

“I wish I could bike all the way around the world,” I said to myself one day. And then I thought, “Why not?”

OK, I knew I couldn’t ride across the oceans. I came up with the idea to ride across each of the continents, from coast to coast. The more I thought about it, the more excited I became about my future plans.

If I will do this, I will have to thoroughly prepare, I thought. I was also very scared. Would I be able to make it over towering mountains and across burning deserts? What if I got lost somewhere and didn’t know the language?

After a few months of training, I set off. This was hard at first, but soon I realized that everywhere I went people cheered me on when they heard about my journey. The newspaper back home reported on my progress.

Once or twice I ran out of money and has to spend a couple weeks doing odd jobs before I could continue on my way. I never gave up on my idea, and a year and six months later, I found myself pedaling back toward the place where it all began. my journey was over and I was home.

These days, I continue exploring the world with my bike as often as I can. Thanks to my bike, I’ve made countless friends, seen incredible sights, and had unforgettable adventures. I would have missed out on all of that if I hadn’t decided to try biking instead of driving! I guess there is an upside to traffic jams after all!

Commuting By Bike

[Mohon bersabar membacanya, karena saya coba ceritakan pengalaman pribadi. Bila Anda tidak punya banyak waktu, silakan gulir mouse ke bawah, karena inti proses Balik Nama Kendaraan ada di bagian bawah.]

Pada trimester pertama tahun 2016 saya membeli kendaraan sepeda motor Astrea Grand keluaran tahun 1996. Oleh karena tempat kerja berbeda kota dengan domisili, maka sangat sulit menemukan hari bebas untuk sekadar Balik Nama Kendaraan.

Nah kebetulan libur akhir semester saya punya dua pekan hari bebas. Saya rencanakan hari-hari efektif antara Libur Natal dan Tahun Baru untuk balik nama kendaraan di SAMSAT Majenang, Kab. Cilacap.
Samsat majenang

Tepatnya Hari Selasa, 27 Desember 2016, dari Purwokerto saya berangkat sekitar pukul 6. Tiba di Majenang sekitar pukul 8.30. Maklum motor tua hanya bisa jalan maksimal 70 km/jam, terlebih medan jalan yang tidak bersahabat. Kadang saya mikir, kenapa sih tiap hari orang bayar pajak kendaraan tapi sarpra jalan tidak memadai?

Lanjut ke proses Balik Nama Kendaraan. Tidak dinyana ternyata sedang ada pembebasan Bea Balik Nama kendaraan yang sudah berjalan sejak akhir November sampai 30 Desember. Saking banyaknya orang yang hendak Balik Nama Kendaraan, saat saya tiba di SAMSAT, pendaftaran sudah ditutup, karena antrian Cek fisik saja sudah sampai 200, sedangkan saat itu baru nomor 40 yang sedang dikerjakan. Duh, sia-sia capek-capek menempuh jarak 80 km. Akhirnya sekalian saya putuskan untuk touring ke Wanareja, Cipari, Sidareja dan pada akhrinya di Karangpucung. Kebetulan orang tua di Karangpucung sehingga saya titipkan terlebih dahulu sepeda motor di rumah orang tua. Dua hari berselang, tepatnya Hari Kamis, 29 Desember 2016 saya datang lebih gasik lagi. Kali ini tidak dari Purwokerto, tapi dari rumah orang tua. Jarak Karangpucung - Majenang 25 km ditempuh sekitar 30 menit.

Pukul 06.30 saya sudah sampai di SAMSAT. MasyaAllah, kantor belum buka tapi pintu masuk pendaftaran sudah dipenuhi orang. Tidak mau sia-sia kedua kalinya, saya putuskan untuk tetap ikut ambil nomor antrian. Syukurlah dapat nomor antrian juga meski dapat nomor 85. Wah, berapa lama nih antri cek fisiknya?

Pukul 07.00 baik pendaftaran maupun cek fisik sudah mulai dibuka. Kendaraan saya dikerjakan pukul 09.00. Dua jam saya harus menunggu. Untuk proses cek fisik saya sarankan Anda membawa kunci pas atau obeng untuk membuka cover sepeda motor, terutama sepeda motor tua biasanya tertutup cover plastik. Petugas Cek Fisik maunya tinggal gesek. Kali ini sudah tidak ada pungli cek fisik. Tiga bulan sebelumnya saat saya bayar pajak 5 tahunan, untuk motor Mio dimintai Rp 35.000.

Setelah berkas cek fisik sudah ditempel hasil gesek nomor rangka dan nomor mesin, saya diarahkan untuk pengesahan di tempat pendaftaran semula.

Kemudian masuk ke tempat pendaftaran Balik Nama Kendaraan. Saya diminta untuk mengisi surat permohonan pembebasan Bea Balik Nama. (Sebenarnya saya Balik Nama bukan karena memanfaatkan pembebasan Bea Balik Nama, namun karena waktunya saja yang baru sempat, dan kebetulan berbarengan dengan momen Pembebasan Bea Balik Nama). Berkas yang harus ada antara lain:
  • Berkas Cek Fisik
  • KTP Asli pemilik baru (tanpa pemilik lama lho ya, bukan tidak harus, tapi memang tidak disyaratkan)
  • BPKB Asli
  • STNK Asli
  • Kwitansi Pembelian Bermaterai Rp 6000 (bisa bikin di tempat fotokopian, jangan khawatir. Saya sarankan harga beli motor direndahkan, sepertinya ada pengaruh ke besaran pajak)
  • Foto kopi berkas ke dua sampai ke empat tadi masing-masing 3 lembar.

Sekitar pukul 9 menyerahkan berkas, ternyata harus menunggu dua jam lagi, baru nama saya dipanggil untuk membayar bea BPKB Rp 80.000. Kemudian menunggu lagi. Sekitar Pukul 13 baru dipanggil lagi. Kali ini dari petugas Pembayaran. Berikut rincian biaya yang harus dibayar:
  • STNK Rp 50.000
  • TNKB (Plat Nomor) Rp 30.000
  • SWDKLLJ Rp 32.400
  • PKB Rp 43.750
Totalnya Rp 156.150

Setelah itu menunggu cetak STNK sekitar 10 menit. Nah kebetulan Kantor Samsat sedang diperbaiki, sehingga proses ini dikerjakan di Kantor Samsat sementara di sebelah Timur Alun-Alun Majenang. Sedangkan untuk pengambilan pelat nomor di kantor Samsat sebenarnya. Jadi setelah keluar dari Kantor Samsat sementara ini, saya ke Kantor Samsat lama untuk ambil TNKB. Sekitar 10 menit jadi TNKB nya sejak saya menunjukkan STNK ke petugas.

Sedangkan proses BPKB memakan waktu hingga 8 bulan. BPKB saya baru jadi pada tanggal 29 Agustus 2017. Dalam hal ini saya belum paham mengapa bisa selama ini.

Demikian Proses Balik Nama Kendaraan di Samsat Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Total biaya yang harus saya bayarkan adalah Rp 80.000 + Rp 156.000. Namun per 6 Januari 2017, biaya BPKB, STNK dan TNKB semuanya mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Beruntung saya sudah memroses Balik Nama Kendaraan sehingga ditak terkena tarif yang sudah naik.

Proses Balik Nama Kendaraan

Kereta Api Kutojaya Utara (KA 192) memasuki Stasiun Purwokerto. KA 192 ini berangkat dari Pasar Senen pukul 05.30 tiba di Purwokerto pukul 10.40, dengan tujuan akhir Kutoarjo pukul 13.18.

KA 192 Kutojaya Utara adalah Kereta Api Kelas 3 (K3) Ekonomi AC, memiliki tarif khusus (goshow) Rp 30.000 pada tahun 2016 dan sudah naik menjadi Rp 35.000 pada awal tahun 2017 dengan tujuan Purwokerto - Kutoarjo atau sebaliknya. Kereta bertafir goshow (tiket dibeli tiga sampai dua jam sebelum keberangkatan) biasanya pada tujuan pendek tertentu memiliki okupansi penumpang yang sedikit, sehingga untuk menambah okupansi penumpang jarak pendek diberlakukan tarif goshow.

Kereta Api penumpang yang masuk ke stasiun-stasiun Daop V akan disambut lagu khas "Di Tepinya Sungai Serayu". Ciri khas ini untuk menandakan bahwa penumpang sudah masuk area Daop V Purwokerto.

Catatan: video ini direkam pada tanggal 18 Desember 2016



Kereta Api Kutojaya Utara (KA 192) memasuki Stasiun Purwokerto